JENIS DAN TAHAPAN HASIL BELAJAR

Berdasarkan taksonomi Bloom, dkk., hasil belajar digolongkan kedalam tiga ranah atau domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan otak dan penalaran. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nila, hal ini akan nampak pada diri siswa dalam berbagai bentuk sikap dan tingkah laku. Ranah psikomotorik berkenaan dengan berbagai keterampilan gerak tubuh secara fisik.

RANAH KOGNITIF

Ranah kognitif berkenaan dengan kemampuan otak dan penalaran. Ranah kognitif dibagi menjadi enam tahapan yang secara umum dikelompokan menjadi dua yaitu kognitif tingkat dasar dan kognitif tingkat tinggi. Kognitif tingkat dasar terdiri dari ingatan (recall), pemahaman (comprehension), dan penerapan (application). Kognitif tingkat tinggi terdiri dari analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation). Secara bertahap dapat disimbolkan dengan C1, C2, C3, C4, C5, dan C6.

1.         Ingatan (Recall)

Hasil belajar pada tahap ini ditunjukan dengan kemampuan siswa dalam menyebutkan kembali fakta-fakta, istilah-istilah, hukum, dan rumus-rumus yang telah dipelajarinya. Kemampuan pada tahap ini siswa mampu mengingat dan menghapal materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2.         Pemahaman (Comprehension)

Kemampuan pada tahap pemahaman yaitu kemampuan menangkap makna atau arti dari sebuah konsep. Jadi, bukan hanya mengingat atau menghapal saja akan tetapi siswa mampu memahami maksud dan tujuan dari sebuah konsep tersebut secara abstrak. Kemampuan pemahaman di bagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, pemahaman terjemahan  misalnya siswa dibacakan kalimat dalam bahasa inggris kemudian siswa diminta untuk menterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Kedua, pemahaman penafsiran yaitu kemampuan menyimpulkan secara tepat  dari suatu data yang disajikan. Misalnya ‘’ 2 + 4 x 5 = … ‘’ jika siswa menjawab 22 dan bukan 30, maka siswa telah mampu membuat kesimpulan secara tepat data tersebut karena telah memahami konsep oprasi hitung dengan benar karena dalam konsep matematika perkalian atau pembagian dikerjakan lebih dulu dari pada penjumlahan atau pengurangan.

Ketiga, pemahaman ekstrapolasi yaitu pemahaman siswa dalam betuk memprediksikan secara tepat sesuatu sebagai keberlanjutan sebuah studi kasus yang sudah dipahami. Misalnya siswa telah memahami konsep sifat air mengalir dari dataran tinggi ketempat yang lebih rendah, Jika terjadi hujan lebat secara terus menerus, siswa mampu memprediksi daerah atau dataran yang rendah akan mengalami banjir.

3.         Penerapan (Aplication)

Kemampuan penerapan berkenaan dengan kemampuan siswa untuk menerapkan suatu konsep, teori, hukum, dali, rumus dan prinsip pada situasi baru yang diterapkan pada pemecahan suatu masalah dalam situasi tertentu. Misalnya, siswa telah memahami rumus volume bangun ruang. Pada tahap penerapan, siswa diharapkan mampu menghitung volume air dalam sebuah bak penampungan air.

4.         Analisis (Analysis)

Kemampuan pada tingkat analisis, siswa diharapkan mampu mengurai suatu integritas atau kesatuan yang utuh menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang memiliki arti sesuai konsekuensi pada integritas atau kesatuan tersebut. Pada kemampuan analisis, dibagi menjadi tiga tingkatan sebagai berikut :

Pertama, analisis elemen yaitu kemampuan merumuskan asumsi-asumsi serta mengidentifikasi unsur-unsur penting yang mendukung asumsi yang telah ditentukan. Misalnya dalam suatu negara terdapat masyarakat sebagai suatu bangsa, adanya wilayah, adanya tatanan kenegaraan, dan adanya kedaulatan.

Kedua, analisis hubungan yaitu kemampuan siswa dalam mengenal unsur-unsur dan beberapa pola hubungan serta sistem atau hipotesisnya. Misalnya sebuah kemiskinan di suatu daerah dengan masyarakatnya yang kumuh, rendahnya pendidikan, gizi buruk, tingkat kesehatan rendah,  kondisi yang tidak aman, dan kelaparan. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan cara diawali dengan program peningkatan kualitas pendidkan terutama pada bidang kecakapan hidup, menyediakan lapangan kerja, memperbaiki kondisi keamanan, dan kesehatan.

Ketiga, analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi yaitu  kemampuan siswa dalam menunjukan kemampuan dalam memisahkan dasar-dasar yang dipergunakan dalam organisasi suatu komunikasi. Kemampuan yang tergolong pada tingkat ini, adalah kemampuan mengenal bentuk dari pola suatu karya sastra atau karya seni, kemampuan mengenal inti pandangan. Misalnya suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok bedasarkan berbagai elemen yang memiliki konsekuansi dari satu kesatuan dan hubungannya, dapat ditentukan inti pandangan dan pesan yang tersirat dari tindakan tersebut.

5.         Sintesis (Synthesis)

Pada tahapan kemampuan sintesis yaitu hasil belajar yang menunjukan kemampunan untuk menyatukan beberapa jenis informasi yang terpisah-pisah menjadi satu bentuk komunikasi yang baru dan lebih jelas dari sebelumnya. Pada tahapan kemampuan sintesis, dibagi menjadi tiga tingkatan terdiri atas:

Pertama, kemampuan melahirkan suatu komunikasi yang unik yaitu kemampuan siswa untuk membuat karya tulis. Komunikasi yang unik artinya suatu karya dengan topik yang sama apabila ditulis oleh orang yang berbeda akan menunjukan hasil yang berbeda.

Kedua, kemampuan membuat rancangan yaitu kemampuan menentukan rencana atau langkah baru. Kalau pada tahap penerapan menerapkan konsep pada situasi yang baru, maka pada tahap sintesis, yang baru adalah langkah atau cara yang digunakan sebagai hasil perpaduan dari berbagai kemampuan dalam bentuk rumusan yang baru.

Ketiga, kemampuan mengembangkan suatu tatanan (set) hubungan yang abstrak yaitu kemampuan untuk merumuskan hipotesis berdasarkan gejala dan fakta yang diobservasi, menarik kesimpulan yang bersifat generalisasi, mengubah hipotesis berdasarkan hal-hal yang baru.

6.         Penilaian (Evaluation)

Kemampuan pada tingkat penilaian yaitu kemampuan untuk memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan pertimbangan yang dimiliki atau kriteria yang digunakan. Kriteria yang digunakan yang berasal dari dalam bergubungan dengan alur logika, konsistensi, dan kriteria lainnya. Sedangkan kriteria yang berasal dari luar yaitu kriteria yang dapat diterima secara universal terutama dari evisiensi dan efektifitasnya.

RANAH AFETIF

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai hal ini akan nampak pada diri siswa dalam berbagai bentuk sikap dan tingkah laku. Kemampuan pada ranah afektif dibagi menjadi lima tingkatan yang terdiri dari sikap menerima, menanggapi, menghargai, mengatur diri, dan menjadikan pola hidup. kelima tahapan hasil belajar afektif tersebut dapat disimbolkan secara berurutan dengan A1, A2, A3, A4, dan A5. masing-masing tahapan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.         Menerima (receiving)

Kemampuan menerima mengacu pada kepekaan individu dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar. Siswa dianggap telah mencapai sikap menerima apabila siswa tersebut mampu menunjukan kesadaran, kemauan dan perhatian terhadap sesuatu, serta mengakui kepentingan dan perbedaan. Misalnya siswa telah sadar akan pentingnya belajar, mentaati peraturan, menjaga kebersihan lingkungan, dan sebagainya.

2.         Menanggapi (responding)

Kemampuan menanggapi mengacu pada reaksi yang diberikan kepada individu terhadap stimulus yang datang dari luar. Kemampuan siswa pada tahap ini ditunjukan diantaranya dengan kesediaan siswa untuk mematuhi peraturan, ikut serta dalam berbagai kegiatan yang positif. Misalnya siswa telah melakukan untuk taat terhadap tata tertib lalulintas, membuang sampah pada tempatnya, terlibat dalam kerja kelompok, dan lain sebagainya.

3.         Menghargai (valuing)

Kemampuan menghargai mengacu pada kesediaan individu untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut. Kemampuan siswa pada tahap ini berkenaan dengan kemampuna dalam menunjukan sikap menerima suatu nilai, menyukai suatu objek atau kegiatan, menyepakati perjanjian, menghargai karya seni, pendapt atau ide, bersikap positif atau negative terhadap sesuatu, dan mengakui. Misalnya mengumpulkan tugas tepat waktu, menolak bekerja sama untuk melakukan hal-hal yang negatif,  tidak menertawakan pendapat temannya.

4.         Mengatur diri (organizing)

Kemampuan siswa pada tahap ini berkenaan dengan kemampuan siswa dalam membentuk atau mengorganisasikan bermacam-macam nilai serta menciptakan system nilai yang baik. Kemampuan pada tahap ini, misalnya siswa menyadari kelebihan dan kelemahan dirinya, mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya, menyesuaikan hak dan kewajibannya.

5.         Menjadikan pola hidup (characterization)

Kemampuan pada tahap ini mengacu pada sikap siswa dalam menerima system nilai dan menjadikannya sebagai pola kepribadian dan tingkah laku. Kemampuan pada tahap menjadikan pola hidup, siswa mampu menunjukan sikap percaya diri, disiplin diri, serta mampu mengontrol prilakunya sehingga tercermin dalam pola hidup. kemampuan pada tahap ini misalnya pola hidup yang disiplin, sehat, mengemukakan pendapat dengan sopan, dan lain sebagainya.

Berikut ini salah satu contoh penerapan ranah afektif sesuai dengan tahapannya yaitu:

a.       Siswa menyadari akan pentingnya kebersihan

b.       Dalam rangka menjaga kebersihan, siswa membuang sampah pada tempatnya

c.       Siswa akan senang dan mendukung orang yang membuang sampah pada tempatnya, sebaliknya merasa tidak  senang melihat orang yang membuang sampah sembarangan. Membuang sampah sembarangan mencerminkan diri sebagai orang yang tidak berpendidikan atau kesombongan.

d.      Jika siswa memjadi pemimpin dari teman-temannya, siswa tersebut mampu untuk memberikan contoh untuk membuang sampah pada tempatnya, dan menegur siswa yang membuang sampah sembarangan.

e.       Siswa yang telah menjadikan kebersihan sebagai pola hidup akan membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya meskipun lingkungan sekitar tidak mendukung dan dia menjadi teladan bagi yang lainnya.untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Dari uraian tentang ranah afektif di atas berdasarkan kriteria tersebut, penulis mengasumsikan berdasarkan ranah afektif tentang sikap masyarakat terdidik diawali dari kesadaran individu untuk taat terhadap tata tertib baik dari segi moral, norma-norma agama dan sosial, serta norma hukum dalam berbangsa dan bernegara.

Pertanyaan:

a.      Sudahkah kita sadar dengan nilai-nilai moral, norma, dan aturan-aturan yang kita miliki?

b.      Maukah kita melakukan nilai-nilai tersebut atas dasar kesadaran pribadi?

c.      Seberapa jauh kita telah menghargai nilai-nilai tersebut?

d.      Seberapa jauh tanggungjawab kita dalam menciptakan kondisi demi terlaksananya nilai-nilai tersebut?

e.      Seberapa penting keteladanan pada diri seseorang sehingga nilai-nila positif tersebut menjadikan pola hidup kebersamaan?

Pola hidup yang mengedepankan nilai-nilai positif yang diakui secara universal, merupakan ciri masyarakat yang terdidik dan masyarakat modern Baik masyarakat perkampungan lebih-lebih untuk masyarakat perkotaan sehingga tidak nampak hanya sebuah kesemerawutan di sebuah permukiman yang besar.

RANAH PSIKOMOTORIK

1.       Persepsi

2.       Kesiapan

3.       Gerakan terbimbing

4.       Bertindak secara mekanis

5.       Gerakan kompleks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s